//
you're reading...
Inspirasi, Kuliah, Perpustakaan, Psikologi

PENDIDIKAN PSIKOLOGI BAGI PUSTAKAWAN Untuk Profesionalitas dan Layanan

Menurut asal katanya, psikologi berasal dari kata Yunani ‘psyche’ yang berarti jiwa dan logos’ yang berarti ilmu. Jadi secara harfiah psikologi berarti ilmu jiwa. Namun pengertian jiwa tidak pernah ada kesepakatan dari sejak dahulu. Di antara pendapat para ahli, jiwa bisa berarti ide, karakter atau fungsi mengingat, persepsi akal atau kesadaran. Psikologi adalah ilmu yang sedang berkembang dan pada hakikatnya psikologi dapat diterapkan pada setiap bidang dan segi kehidupan.
Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan aktivitas kehidupan, ilmu psikologi berkembang dengan cepat. Cabang-cabang psikologi dapat digolongkan berdasarkan kekhususan bidang studinya, baik ilmu dasar (teoritis), maupun yang bersifat terapan (praktis). Dalam penerapanya, psikologi berkembang ke berbagai aspek kehidupan manusia, demikian juga titik singgung dengan ilmu ilmu lain juga semakin banyak, misalnya dengan ilmu manajemen, ilmu ekonomi, ilmu sosial dan ilmu perpustakaan.
Ilmu psikologi sangatlah penting bagi pustakawan. Melalui pengetahuan psikologi ini pustakawan dapat meningkatkan profesionalismenya yang akan berpengaruh terhadap kinerja layanan di perpustakaan dan kepuasan pemustaka.
Profesionalisme Pustakawan
Menjadi seorang yang profesional bukanlah sesuatu yang mudah. Kita dilahirkan tidak dengan menyandang predikat profesional. Oleh karena itu kita semua ingin sukses dalam berkarier atau bekerja. Kita perlu ketekunan dan terus-menerus bekerja keras untuk dapat berhasil atau sukses dalam bekerja.
Untuk mengembangkan layanan perpustakaan dituntut adanya pustakawan yang profesional dan berkompeten. Kompetensi pustakawan sebagai sebuah profesi juga dituntut agar profesional dalam melaksanakan tugas pokoknya, yaitu melayani kebutuhan informasi bagi pemakainya. Untuk memperoleh predikat profesional tersebut seorang pustakawan hatus memiliki kompetensi sesuai standar yang telah ditentukan.
Seorang dianggap profesional tidak hanya cukup dengan memiliki ijazah akademik saja. Ia juga harus memenuhi standar kompetensi yang dapat dipertanggungjawabkan dan dapat diuji tingkat kompetensinya. Menurut organisasi profesi pustakawan Amerika, US-SLA (Special Libaries Association) kompetensi pustakawan dibagi menjadi dua, yaitu:
–      Kompetensi profesional, yaitu yang berkaitan dengan pengelolaan perpustakaan di bidang sumber-sumber informasi, teknologi, manajemen, penelitian dan kemampuan menggunakan pengetahuan tersebut sebagai dasar untuk menyediakan layanan perpustakaan dan informasi.
–     Kompetensi individu, yang menggambarkan suatu kesatuan keterampilan, perilaku dan nilai yang dapat dimiliki pustakawan agar dapat bekerja secara efektif, menjadi komunikator yang baik, selalu meningkatkan pengetahuan, dapat memperlihatkan nilai lebihnya serta dapat bertahan terhadap perubahan dan perkembangan dalam dunia kerjanya.
Tanpa sikap profesional dari pustakawanya, perpustakaan yang modern, lengkap dan canggih akan kurang berarti. Sehingga perlu dikembangkan dengan baik upaya-upaya peningkatan profesionalitas pustakawan dalam rangka peningkatan layanan perpustakaan.
Dalam Undang-undang No.43 Tahun 2007 disebutkan bahwa pustakawan adalah seseorang yang memiliki kompetensi yang diperoleh melalui pendidikan dan/atau pelatihan kepustakawanan serta mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk melaksanakan pengelolaan dan pelayanan perpustakaan. Sebagai profesi yang sedang berkembang saat ini pustakawan sudah diakui sebagai profesi dengan adanya Undang-undang No.47 Tahun 2007. Pasal 34 UU No.43 Tahun 2007 mengatur mengenai organisasi profesi pustakawan, yang dalam hal ini adalah Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI). Alasan pustakawan digolongkan sebagai profesi antara lain:
a.   Memiliki batang tubuh pengetahuan yang sistematik dan teoritis serta pola pendidikan    profesi yang jelas.
b.    Berorientasi jasa kepada masyarakat
c.    Adanya kode etik
d.    Adanya monopoli
e.    Adanya organisasi profesi

Psikologi Bagi Pustakawan
Untuk dapat memahami kepribadian tidak mudah karena kepribadian merupakan masalah yang kompleks. Kepribadian itu tidak hanya melekat pada diri seseorang, tetapi lebih merupakan hasil suatu pertumbuhan yang lama dalam suatu lingkungan budaya. Para ahli menyebutkan bahwa kepribadian adalah kesan yang ditimbulkan oleh sifat-sifat lahiriah seseorang, seperti cara berpakaian, sifat jasmaniah, daya pikat dan sebagainya. Disebutkan juga bahwa kepribadian adalah organisasi dinamis dalam individu sebagai makhluk yang bersifat psikofisik yang menentukan penyesuaian dirinya secara unik terhadap lingkungan. Ahli lain mengklasifikasikan seluruh ranah kepribadian dalam enam tipe yang sangat menonjol, yaitu tipe realistik, tipe penyelidik atau investigatif, tipe artistik, tipe sosial, tipe perintis atau enterpristing dan tipe konvensional.
Kepribadian seseorang akan tumbuh dan berkembang sesuai dengan pengalaman pribadi masing-masing. Beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan kepribadian antara lain: perasaan bersalah, benci, cemas, kepercayaan yang diemban, harapan yang dicamkan dan kasih sayang yang diterima dari lingkungan. Dengan kita mencoba mengenal dan kemudian memahami istilah kepribadian, maka kemudian diharapkan akan mempermudah mengenal diri sendiri, baik kekuatan atau kelemahan yang ada. Dengan kita sudah mengenal diri sendiri akan sangat bermanfaat bagi diri pribadi dan lingkungan, terutama memperlancar tugas profesional kita.
Pustakawan khususnya bagian sirkulasi adalah sebuah pekerjaan  yang dituntut untuk menghadapi orang yang beranekaragam, mulai dari keberagaman usia, tingkat pendidikan, tingkat ekonomi dan lain-lain. Untuk dapat melayani kebutukan informasi mereka, penting bagi pustakawan untuk memiliki pengetahuan psikologi. Dengan pengetahuan psikologi ini pustakawan dapat mengenal kepribadian pemustaka yang selanjutnya dapat memprediksi kebutuhan informasi mereka. Dengan demikian pustakawan dapat menentukan tindakan dalam memenuhi kebutuhan informasi mereka, apakah mereka ingin informasi ilmiah, artikel ringan atau mereka sekedar ingin berekreasi melalui koleksi fiksi sehingga pelayanan yang diberikan lebih optimal.
Psikologi dan Layanan Perpustakaan
Perpustakaan menempati posisi strategis dalam kehidupan umat manusia, bahkan dapat dipakai sebagai tolok ukur tinggi rendahnya peradaban suatu bangsa. Salah satu faktor signifikan dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia ditentukan oleh keberadaan dan pemanfaatan perpustakaan.
Dalam mengembangkan perpustakaan, perlu adanya dukungan dari ilmu- ilmu lainya, salah satunya adalah ilmu psikologi. Ilmu psikologi dapat meningkatkan profesionalisme pustawan. Dengan profesionalisme yang tinggi, pustakawan dapat memuaskan kebutuhan informasi pemustaka. Dengan demikian dapat tercipta adanya suatu interaksi aktif antara pemustaka dan pustakawan. Faktor penting lain yang menentukan terjadinya interaksi sosial di perpustakaan adalah persepsi positif pemustaka terhadap layanan perpustakaan dan pustakawanya. Daya tarik antarpribadi juga menjadi faktor yang menentukan terwujudnya interaksi sosial. Yang mempengaruhi daya tarik antarpribadi, di antaranya adalah kesempatan untuk berinteraksi, baik yang berhubungan jarak fisik maupun jarak psikologis. Pendekatan untuk mengetahui daya tarik antar-pribadi, dapat dilakukan melalui pendekatan kognitif dan pendekatan formulasi pada hukum-hukum belajar.
Hal sederhana lainya yang sangat penting bagi pustakawan adalah keramahan. Apabila pustakawan ramah terhadap pemustaka, mereka akan nyaman untuk berkomunikasi dengan para pustakawan. Melalui jalinan komunikasi yang baik inilah dapat tercapai relevansi yang tinggi terhadap informasi yang dibutuhkan pemustaka. Komunikasi dalam lingkup perpustakaan ini tidak hanya  terbatas pada komunikasi “face to face” pustakawan dan pemustaka saja. Komunikasi disini dapat diartikan sebagai suatu proses penyampaian dan penerimaan berita, pesan atau informasi dari seseorang ke orang lain. Komunikasi ini tidak akan terjadi apabila tidak ada komunikator, pesan  yang disampaikan dan komunikan yang menerima pesan tersebut. Namun demikian, komunikasi dalam kenyataannya tidak seperti yang dikatakan itu. Masih terdapat sejumlah kemungkinan penghalang, dan penyaring di dalam proses komunikasi. Pengirim (komunikator) mencoba untuk mengkodekan berita, pesan atau buah pikirannya kedalam suatu bentuk yang dianggapnya paling tepat. Kemudian kode-kode tersebut dikirimkan, dan penerima (komunikan) berusaha memahami kode tersebut. Tetapi di dalam proses perjalanan berita tadi banyak terdapat serangkaian persepsi atau gangguan yang dapat mengurangi kejelasan dan ketepatan pesan atau berita. Halangan paling besar untuk mencapai komunikasi yang efektif adalah jika terjadi aneka macam persepsi atau gangguan. Misalnya, komunikator menyampaikan pesan dengan tidak jelas dan menggunakan saluran transmisi yang salah mungkin si komunikan sedang memikirkan hal lain pada saat ia harus menerima pesan tersebut. Dalam kondisi seperti itu ia hanya mendengar tetapi mungkin tidak tahu tentang isi pesannya.
Kinerja Pustakawan dan Perpustakaan
Kinerja adalah hasil seseorang secara keseluruhan selama periode tertentu di dalam melaksanakan tugas, seperti standar hasil kerja, target atau sasaran atau kriteria yang telah ditentukan terlebih dahulu dan telah disepakati bersama.(Rivai & Basri, 2004: 14).
Apabila dikaitkan dengan performance sebagai kata benda (noun), maka pengertian performance atau kinerja adalah hasil kerja yang dapat dicapai oleh seseorang atau kelompok orang dalam suatu perusahaan sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab masing-masing dalam upaya pencapaian tujuan perusahaan secara legal, tidak melanggar hukum dan tidak bertentangan dengan moral dan etika. (Rivai & Basri, 2004:16).
Suatu penelitian telah memperlihatkan bahwa suatu lingkungan kerja yang menyenangkan sangat penting untuk mendorong tingkat kinerja karyawan yang paling produktif. Dalam interaksi sehari-hari, antara atasan dan bawahan, berbagai asumsi dan harapan lain muncul. Ketika atasan dan bawahan membentuk serangkaian asumsi dan harapan mereka sendiri yang terkadang agak berseberangan, perbedaan-perbedaan ini yang akhirnya berpengaruh pada tingkat kinerja. Hal ini nampaknya berlaku juga di perpustakaan. Apbila tidak ada keselarasan antara harapan pustakawan dengan kemampuan perpustakaan sebagai sebuah organisasi, maka pustakawan cenderung malas dan bekerja dengan setengah-setengah. Apabila sudah demikian dapat dipastikan kinerja pelayanan perpustakaan akan terganggu dan kurang memuaskan bagi pemustaka. Untuk menjaga kinerja pelayanan perpustakaan perlu dijalin komunikasi aktif mengenai harapan atau ide-ide pustakawan, sehingga dapat saling mengerti keadaan yang sebenarnya. Perlu juga untuk mengadakan evaluasi secara berkala mengenai kinerja perpustakaan.
Dari hasil evaluasi tersebut, pustakawan dapat mengetahui gambaran nyata koleksi perpustakaan, baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Hasil tersebut juga digunakan sebagai alat kontrol dari kebijakan pengembangan koleksi, dan menentukan kebijakan preseervasi dan konservasi koleksi perpustakaan. Tujuan lainya adalah untuk menghemat tempat dan memberi tempat untuk koleksi baru sehingga koleksi perpustakaan lebih akurat, relevan, dan lebih menarik.
Evaluasi dapat dilakukan dengan inventarisasi (stock opname), yaitu memeriksa bahan pustaka yang masih tercatat sesuai dengan katalog perpustakaan atau shelflist, mencatat apakah masih ada di rak, dipinjam, atau hilang.  Kegiatan ini dilakukan untuk mengetahui keadaan koleksi ditinjau dari jumlah, pemanfaatan koleksi, serta kondisi fisik pustaka. Kegiatan ini dapat dilakukan setahun atau dua tahun sekali, dengan mengerahkan seluruh staf perpustakaan.Namun dengan semakin majunya teknologi informaasi untuk perpustakaan, kegiatan inventarisasi ini menjadi lebih mudah dan tidak perlu terlalu banyak tenaga.
Melalui kegiatan inventarisisasi ini pustakawan juga dapat menentukan rencana pengembangan perpustakaan kedepanya. Supaya perencanaan lebih terarah dan tepat guna, maka perlu dilakukan penelitian mendalam mengenai beberapa hal yang berhubungan langsung dengan perpustakaan. Hal-hal yang perlu diteliti antara lain:
a. Pemustaka
Pemustaka adalah tujuan utama perpustakaan. Pustakawan perlu mengkaji tentangpemustaka, kebutuhan informasi pemustaka dan kepuasan pemustaka terhadap layanan jasa perpustakaan. Semakin tinggi tingkat pemenuhan informasi oleh perpustakaan, dan semakin tinggi tingkat kepuasan pemustaka, berarti perpustakaan semakin bagus.
b. Inventarisasi
Survei dilakukan untuk mengetahui kekuatan koleksi yang dimiliki, mulai dari mutu, harga dan tingkat keterpakaiannya, dan bagaimana cara menginformasikannya. Dengan pengaplikasian Teknologi Informasi dan Komuikasi, inventarisasi ini menjadi lebih praktis. Untuk perpustakaan yang sudah menerapkan automasi perpustakaan, pustakawan tinggal mengoperasikan aplikasi yang digunakan di perpustakaan utuk menginventarisasi seluruh koleksi perpustakaan yang selanjutnya dapat dicetak.
c. Perkembangan teknologi informasi.
Survei dilakukan untuk mengetahui kemajuan teknologi, mulai dari spesifikasi, harga, kualitas hingga cara pemeliharaannya, agar perpustakaan dapat memanfaatkan teknologi yang praktis dan sesuai dengan tingkat kebutuhan. Selain software yang beli, sekarang juga sudah bisa mendapatkan aplikasi gratis di internet.
d.  Penjajagan kerjasama
Tidak ada satu perpustakaanpun yang dapat memenuhi kebutuhan semua orang dengan hanya mengandalkan koleksi sendiri. Untuk itu perlu diadakan kerjasama dengan perpustakaan atau lembaga sumber informasi. Lembaga yang dimaksud adalah lembaga pemerintahan, lembaga LSM, penerbit dan toko buku, universitas, atau perpustakaan-perpustakaan lain seperti Perpustakaan Nasional.
e. Kinerja pustakawan dan staf perpustakaan
Selain perpustakaanya, perlu juga dilakukan penelitian mengenai tingkat kinerja seluruh staf perpustakaan. Dengan demikian, setelah mereka mengetahui tingkat prestasi masing-masing, mereka dapat diarahkan untuk pengembangan selanjutnya. Selain itu, individu yang mendapat penilaian kurang bagus juga dapat termotivasi untuk memiliki kemauan untuk maju dan meningkatkan pengetahuan dan keterampilanya.
Beberapa segi pentingnya perpustakaan memang tampak nyata. Perpustakaan mempunyai fungsi edukatif, informatif, riset, rekreatif, administratif, publikasi, deposit, dan interpretatif. Dengan demikian, timbul sebuah pertanyaan, apakah pustakawan dan perpustakaan mampu memantapkan eksistensinya dan membangun image positif di mata masyarakat? Itu menjadi tantangan bagi kita selaku pustakawan.
Daftar bacaan:
Basuki, Sulistyo. 2004. Pengantar Dokumentasi: mulai dari pengembangan istilah, pemahaman jenis dokumen diikuti dengan pengolahan dokumen, dan komunikasi sampai dengan jasa pemencaran informasi serta diakhiri dengan etika profesi. Bandung:Rekayasa Sains
http://jurnal-sdm.blogspot.com/2009/04/penilaian-kinerja-karyawan-definisi.html diakses pada 26 Oktober 2010
http://massofa.wordpress.com/2008/02/06/pengantar-psikologi-perpustakaan/ diakses pada 24 Oktober 2010
Rimbarawa, Kosan. Supriyanto. 2006. Aksentuasi Pustakawan dan Perpustakaan. Jakarta: Ikatan Pustakawan Indonesia Pengurus Daerah DKI Jakarta
Undang-undang No. 43 Tahun 2007 Tentang Perpustakaan. 2007. Semarang: Panji Duta Sarana

About jejeffri..

Aku adalah orang kampung, yang petani kalau disawah, gelandangan kalau di jalan, pelancong kalau lagi bepergian, tapi dimanapun aku, aku tetep seorang pelajar. Yang mempelajari kerasnya hidup... e.

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Alamat Baru jejeffri

Jefri Eko Cahyono

Aku adalah aku.
Bukan dia, bukan juga kamu,
dan inilah aku, "JEFRI".
Dengan segala keunikan q,
dan cueX is number one..!

Categories

Archieves

%d bloggers like this: